Perkembangan Teknologi Penerangan Buatan

Sejarah Perkembangan Penerangan Buatan

Dalam kehidupan sehari-hari kita semua pasti membutuhkan cahaya/ penerangan untuk melakukan suatu kegiatan. Cahaya ini bisa kita dapatkan dari sinar matahari pada siang hari. Sedangkan untuk malam hari, kita biasa menggunakan lampu listrik, lampu minyak, atau bahkan ada juga yang menggunakan lampu gas.

Jika melihat sejarah perkembangan dari penerangan buatan, semua bermula pada manusia jaman dahulu yang membutuhkan suatu penerangan pada malam hari dengan cara menggosok-gosokan batu hingga meneluarkan percikan api, yang kemudian dari percikan api tersebut dikembangkan dengan membakar benda-benda yang mudah terbakar sehingga benda tersebut dapat membentuk sekumpulan cahaya.

Dan seterusnya sampai ditemukannya bahan bakar minyak yang dapat digunakan sebagai bahan untuk penyalaan lampu obor yang terbuat dari kayu atau bambu yang salah satu ujungnya dililitkan dengan kain atau bahan yang mudah terbakar yang sebelumnya telah diberi minyak.
Serta lampu minyak yang terbuat dari cawan atau mangkok kecil yang berisi minyak tanah yang diatasnya diberi sumbu. Cara penggunaannya kita tinggal menyalakan api diatas sumbu yang sudah dialirkan minyak.

Teknologi penerangan buatan terus berkembang dengan ditemukannya lampu listrik oleh Thomas Alpha Edision pada tahun 1879. Lampu listrik ini dapat mengeluarkan cahaya yang disebabkan oleh panas yang terjadi dari arus hubungan singkat listrik pada filamen carbon. Lima puluh tahun kemudian filamen carbon pada lampu diganti dengan filamen tungsten atau wolfram yang dibuat dengan membentuk lilitan kumparan sehingga dapat meningkatkan intensitas cahaya yang dikeluarkan.

Teknologi perkembangan lampu berkembang dengan pesat. Pada tahun 1910 digunakanlah lampu luah tegangan tinggi. Lampu ini menggunakan sistem emisi elektron yang bergerak dari Katoda menuju Anoda pada tabung lampu akan menumbuk atom-atom media gas yang ada di dalam tabung tersebut, akibat tumbukan-tumbukan tersebut akan menyebabkan pelepasan energi dalam bentuk cahaya.

Media gas yang digunakan dapat berbagai macam. Tahun 1932 ditemukan lampu luah dengan gas Sodium tekanan rendah, dan tahun 1935 dikembangkan lampu luah dengan gas Merkuri, dan kemudian tahun 1939 berhasil dikembangkan lampu Fluorescen, yang biasa dikenal dengan lampu neon. Selanjutnya lampu Xenon tahun 1959. Khusus lampu sorot dengan warna yang lebih baik telah dikembangkan gas Metalhalide (Halogen yang dicampur dengan Iodine) pada tahun 1964, sampai pada akhirnya lampu Sodium tekanan tinggi tahun 1965.

.

.

Dalam kehidupan masyarakat, penggunaan teknologi cahaya buatan ini tidak lepas dari dampak positif dan dampak negatif yang ditimbulkan. Salah satu contohnya adalah penggunaan lampu fluorescen atau yang lebih dikenal dengan sebutan lampu neon.

.

Dampak Positif Dalam Kehidupan Masyarakat

Lampu fluorescen lebih hemat energi dan lebih awet dibandingkan lampu biasa. Suatu riset menunjukkan bahwa dengan hasil cahaya yang sama terang, untuk pemakaian 5 jam lampu fluorescen hanya membutuhkan listrik 25,5 kWH sedangkan lampu biasa 109,5 kWH. Serta usia pakai rata-rata lampu fluorescen bisa sampai 10.000 jam sedangkan lampu biasa hanya sampai 1.500 jam.

Karena lampu fluorescen ini membutuhkan energi yang lebih sedikit dibanding lampu pijar biasa. Setiap daya listrik yang dipakai maka akan menghabiskan sumber daya energi listrik yang kebanyakan berasal dari bahan bakar fosil. Bahan bakar fosil adalah bahan bakar tak terbarukan, dan dalam jangka sepuluh tahun ke depan mungkin bahan bakar jenis ini akan habis.

.

Dampak Negatif Dalam Kehidupan Masyarakat

Lampu fluorescen yang menggunakan uap air raksa dan fosfor, ketika dialiri listrik elemen ini saling bereaksi menimbulkan cahaya dengan hanya sedikit melepas panas. Uap air raksa ini walaupun konsentrasinya rendah, bila penanganan pembuangan tidak dilakukan dengan benar dapat merusak lingkungan. Jika pembuangan bola lampu fluorescen tidak dilakukan dengan benar dapat menyebabkan air raksa terlepas ke udara atau meresap ke tanah. Pada akhirnya karena proses alam, air raksa tersebut akan masuk ke dalam air, proses biologi akan mengubahnya menjadi racun berbahaya yang dapat bertahan lama.

Air raksa dalam air diubah oleh bakteri menjadi metilmerkuri, semacam racun yang akhirnya menumpuk pada binatang (ikan) dan yang mengkonsumsi ikan umumnya manusia akan teracuni air raksa akibat mengkonsumsi ikan yang tercemar tersebut. Tanda-tanda yang telah keracunan : mati rasa pada bagian lengan dan kaki, berkurangnya daya ingat, pendengaran dan penglihatan serta akibat-akibat lainnya.

.

Solusi Untuk Mengurangi Dampak Negatif

Untuk mencegah atau mengurangi dampak negatif dari sampah lampu fluorescen ini, diperlukan penanganan tempat pembuangan dan pengolahan sampah secara khusus dan terpisah.

.

.

.

Kelompok

10108797, Alif Al Birru
10108975, Fenni Suhardianningsih

Kelas IF-17K

About these ads

~ oleh albirru pada 25 Maret 2009.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: